Lebak, kabarhits.com – Atmosfer spiritual yang kental menyelimuti kawasan tanah ulayat Suku Baduy seiring dengan datangnya bulan Maulid.
Momentum penuh berkah ini dimanfaatkan secara mendalam oleh tokoh wisata terkemuka, Lusiana Bn Candi Kecana yang lebih karib disapa Emak Cibodas, untuk menggelar kunjungan budaya ke jantung pertahanan adat Baduy Jero, Jum’at (28/08/26).
Kehadirannya di sana bukan sekadar pelesiran biasa, melainkan membawa sebuah misi khusus untuk merawat silaturahmi yang sempat terjedah oleh waktu.

Bersama dengan rombongan kecil yang terdiri dari Putthra Anintyo, Ibu Euis, dan Abah Jeri, Emak Cibodas sengaja memilih rute alternatif yang kini mulai naik daun.
Mereka menembus eksotisme Kabupaten Lebak melalui kawasan Binong Raya yang terletak di Desa Keboncau, Kecamatan Bojongmanik.
Jalur ini dikenal sebagai akses Pintu 3, sebuah gerbang pariwisata baru yang menawarkan pesona alam asri sekaligus aksesibilitas yang ramah bagi para pencinta petualangan budaya.
Sebagai jalur yang belum lama diresmikan untuk umum, Pintu 3 Binong Raya menyuguhkan kesiapan infrastruktur penunjang pariwisata yang terbilang lengkap.
Wisatawan yang datang akan dimanjakan dengan area parkir kendaraan yang luas, deretan warung tradisional, galeri kerajinan tangan, hingga sentra hasil bumi.
Uniknya, jalur terdekat menuju perkampungan Baduy Dalam ini juga dipenuhi oleh pedagang durian autentik yang menjadi simbol komoditas andalan masyarakat setempat.
Misi utama Emak Cibodas dalam penjelajahan kali ini menitikberatkan pada aspek edukasi dan pelestarian nilai-nilai leluhur Suku Baduy.
Secara khusus, ia ingin bertukar pikiran langsung dengan para tokoh adat yang diberkahi kearifan lokal dan keahlian supranatural mendalam.
Langkah ini diambil sebagai wujud komitmen konkretnya untuk terus menggaungkan eksistensi adat Baduy ke kancah yang lebih luas, sembari memberikan dukungan penuh atas pengelolaan pos pariwisata baru tersebut.

Kehadiran rombongan ini disambut hangat Ayah Mursid, pemuka Suku Adat Baduy Dalam sekaligus penggerak utama pos wisata Binong Raya.
Pertemuan tersebut memantik keharuan mendalam, terutama bagi Ibu Euis dan Abah Jeri yang merasakan hangatnya penerimaan warga adat setelah sekian lama absen.
Di sisi lain, Putthra Anintyo turut menggantungkan harapan besar agar warisan tradisi Baduy Dalam tidak sekadar lestari di tingkat lokal, namun juga mendapatkan apresiasi tinggi di panggung internasional.
Setelah bercengkerama, rombongan memulai perjalanan trekking dengan berjalan kaki menyusuri bentang alam selama sekitar satu jam.
Ujung dari langkah kaki mereka bermuara di sebuah titik paling dekat Jembatan Muara Cipicung Ciujung.
Jembatan bambu ikonik ini bukan sekadar sarana penyeberangan fisik di atas sungai, melainkan pembatas sakral yang memisahkan modernitas luar dengan keteguhan adat Baduy Dalam.
Tepat di perbatasan jembatan suci inilah, hukum adat ditegakkan secara mutlak tanpa kompromi. Di akhir perjalanannya, Emak Cibodas mengimbau seluruh pelancong untuk melepaskan ketergantungan pada teknologi digital dengan mematikan kamera gawai maupun perangkat profesional.
Dengan menghormati larangan dokumentasi tersebut, setiap pengunjung diajak untuk menikmati harmoni alam dengan bertelanjang kaki demi menjemput kedamaian jiwa yang sejati.




comments (0)